Pages

Selasa, 14 April 2015

APA ARTI MUSLIM ?



  1. Siapakah Yang Di Sebut Muslim

Marilah kita fikirkan apa sebenarnya arti kata Muslim yang kita gunakan setiap waktu itu,dengan memikirkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

1.       Apakah seseorang sudah membawa Islam pada waktu ia dilahirkan?
2.       Apakah seseorang disebut Muslim kerana faktor keturunan yaitu ibu-bapaknya atau  kakeknya adalah Muslim?
3.       Apakah seseorang disebut Muslim karena lahir ditanah Arab atau Mekkah ?
4.       Apakah seseorang disebut Muslim karena KTP nya tertulis muslim ?
5.       Apakah seseorang disebut Muslim karena lahir di tengah masyarakat Muslim ?
6.       Apakah seseorang disebut Muslim karena factor nama seperti “ Abdul Rahman”   adalah Muslim dan orang kafir namanya “ John Smith “ ?
7.       Apakah seseorang disebut Muslim karena faktor makanannya, yaitu Kafir makan daging babi, sementara Muslim tidak makan daging babi ?
8.       Apakah seseorang disebut Muslim karena faktor pakaiannya, yaitu kafir pakai celana  jeans dan Muslim pakai gamis ?
9.       Apakah seseorang disebut Muslim karena dikhitan dan orang kafir tidak ?
                              Apakah seseorang disebut Muslim karena warna kulit, Kafir warna kulitnya bule sementara                                 Muslim kulitnya hitam atau sawo matang?


Bagaimana Jawaban dari pertanyaan diatas itu ?

Saya kira, bahkan saya yakin anda akan menjawab : Tidak. Seseorang tidak bisa disebut Muslim karena alasan-alasan tersebut diatas. Tetapi seseorang dikatakan Muslim apabila ia mau menerima Islam sebagai agamanya. Sebaliknya apabila ia melepaskan atau menolak agama Islam, maka secara otomatis ia berhenti menjadi seorang Muslim. Kemusliman seseorang adalah gelar yang diberikan Alloh karena ia mau menerima Islam sebagai agamanya.

Seseorang yang beragama hindu atau jahil atau kafir bisa menjadi seorang Muslim apabila ia mau menerima Islam sebagai agamanya. Sebaliknya seseorang yang lahir ditengah-tengah keluarga Muslim akan dikeluarkan dari masyarakat Muslim kalau ia melepaskan Islam sebagai agamanya, walaupun ia anak seorang ustad atau anak seorang kyai.

Bagaimanakah arti dari menerima Islam itu ?

Arti menerima Islam adalah bahwa seseorang harus dengan penuh kesadaran dan kesengajaan menerima apa-apa yang telah diajarkan oleh baginda Rasullullah Muhammad Saw, dan bertindak sesuai dengan perintah-perintah dan ajarannya. Barangsiapa yang berbuat demikian,maka ia adalah seorang Muslim dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, ia bukanlah seorang Muslim.

Tetapi dalam faktanya saat ini tidak sedikit seorang Muslim mematuhi petunjuk Alloh hanya dalam sebagian masalah saja, dan dalam masalah-masalah lain mengingkari atau membangkangnya, maka ia telah terlibat dalam kekufuran sejauh pembangkangannya terhadap hukum-hukum dan aturan-aturan Alloh. Sehingga lahirlah muslim setengah-setengah, muslim seperempat, muslim tigaperempat, bahkan ada yang hanya mengaku muslim saja tetapi pada perbuatannya hampir semua perintah Alloh dibangkangnya. Padahal arti menerima Islam itu harus Kaffah.

Bagaimanakah menjadi seorang Muslim yang Kaffah itu ?

Muslim Kaffah disini adalah sosok pribadi muslim yang senantiasa mengarahkan seluruh hidup dan kehidupannya sesuai dengan al-Qur’an dan mengikuti sunah Rasulullah SAW. Menerima semua ajaran Rasulullah Muhammad Saw baik  yang manis maupun yang pahit sekalipun, seorang muslim Kaffah menerima semua aturan-aturan Alloh tanpa halangan.         Mengapa meski di tambah kata ‘kaaffah’  bukankah muslim sendiri memiliki pengertian menye-rahkan diri kepada Alloh dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunah? Betul demikian, namun penyebutan muslim kaafah disini bersifat penegas-an, sekedar membedakan, karena dalam prakteknya banyak yang mengklaim dirinya seorang muslim, namun prilakunya tidak islamis, atau tindakan amalnya menunjukan tindakan islam, seperti shalat, zakat, shaum, dll, namun bukan lahir dari penghayatan iman. 


                Diantara ayat yang menunjukan hal ini, salah satunya firman Alloh dalam Al-Qur’an ; Firman Allah Qs. 2:208 sebagai berikut ;

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keselu-ruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (Qs.al-Baqarah/2:208)
        


Perbedaan antara seorang Muslim dan Seorang Kafir ?

Perbedaan yang sebenarnya antara keduanya adalah karena Islam dan Kufr. Islam berarti kepatuhan kepada Alloh sedangkan Kufr berarti ketidakpatuhan kepada Alloh. Seorang Muslim lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh daripada orang kafir. Alloh senang terhadap Orang Muslim dan benci kepada orang Kafir. Seorang Muslim akan memperoleh keselamatan dari Alloh sedangkan orang kafir tidak. Seorang Muslim mematuhi perintah-perintah Alloh sedangkan kafir membangkang akan perintah-perintah Alloh. Alloh menjanjikan karunia sorga bagi seorang Muslim dan mamasukan orang kafir kedalam neraka. Marilah kita pikirkan,mengapa ada perbedaan yang begitu besar antara seorang Muslim dan seorang kafir. Padahal seorang kafir juga adalah sama keturnan Adam seperti kita semua. Ia seorang manusia seperti kita semua, ia punya tangan,kaki, mata dan telinga seperti kita semua. Ia pun bernapas dengan udara yang sama, minum air yang sama, dan hiduo di bumi yang sama. Alloh yang meciptakan kita adalah penciptanya juga. Maka, kenapakah derajatnya rendah dan derajat kita tinggi ? mengapa kita semua nanti akan masuk sorga dan dia masuk neraka ?


Sebab Perbedaan adalah Pengetahuan dan Perbuatan

Ada dua perkara yang membedakan seorang Muslim dengan seorang kafir. Yang pertama adalah pengetahuan dan yang kedua perbuatan. Pengetahuan berarti bahwa seorang Muslim harus tahu siapa TuhanNya, apa perintah-perintahNya, bagaimana cara-cara untuk menuruti kehendakNya, perbuatanperbuatan mana yang disukaiNya dan mana yang tidak disukaiNya. Bila ia sudah tahu akan hal-hal tersebut, maka langkah yang kedua ialah bahwa ia harus menjadikan dirinya sebagai budak dari Tuhannya, melaksanakan kehendak-kehendakNya, dan mengabaikan kemauan-kemauannya sendiri. Bila hatinya ingin melakukan sesuatu perbuatan, tetapi perbuatan itu bertentangan dengan perintah Tuhannya, maka ia harus melepaskan keinginannya sendiri dan melaksanakan perintah Tuhannya. Apabila suatu perbuatan kelihatan mulia di matanya, tetapi Tuhannya mengatakan bahwa perbuatan itu hina, maka ia harus memandangnya hina pula.

Sebaliknya, bila suatu perbuatan nampak hina dimatanya, tetapi Tuhannya mengatakan mulia, maka ia harus memandangnya mulia pula. Apabila ia melihat bahwa sesuatu pekerjaan mengandung bahaya, tetapi TuhanNya mengatakan bahwa pekerjaan itu harus dilakukan, maka bagaimanapun juga ia mesti mengerjakannya, walaupun ia mungkin akan kehilangan harta benda bahkan nyawanya. Sebaliknya, apabila ia memandang bahwa sesuatu pekerjaan akan mendatangkan keuntungan baginya, tetapi Tuhannya melarang pekerjaan tersebut, maka ia harus meninggalkannya, walaupun pekerjaan tersebut boleh mendatangkan keuntungan sebanyak harta benda yang ada di seluruh dunia ini.
lnilah pengetahuan dan perbuatan yang menjadikan seorang Muslim sebagai hamba Allah yang sejati, yang mendapat limpahan rahmatNya serta kedudukan yang luhur mulia. Sebaliknya, kerana seorang kafir tidak memiliki pengetahuan ini, ia dimasukkan ke dalam golongan hamba Allah yang membangkang dan tidak mendapat limpahan rahmatNya.

Sekarang, seandainya ada seseorang yang menyatakan dirinya seorang Muslim, tetapi ia sama bodohnya tentang Islam dengan seorang kafir, dan sama pula pembangkangnya kepada Allah, dapatkah kita mengatakan dengan menggunakan pertimbangan yang adil, bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada seorang kafir, semata-mata kerana ia memiliki nama yang berbeda, memakai pakaian yang berbeda dan memakan makanan yang berbeda dengan orang kafir tersebut? Dan apa pula alasannya untuk mengatakan bahwa ia berhak memperoleh rahmat Allah di dunia dan di akhirat? Islam bukanlah sesuatu yang bersifat kebangsaan, kekeluargaan atau persaudaraan yang secara langsung diwarisi oleh orangtua kepada anak dan dari anak kepada cucu. Kedudukan sebagai seorang Muslim tidaklah diperoleh kerana keturunan sebagaimana halnya kasta, di mana anak seorang Brahmana akan tetap memperoleh kedudukan yang tinggi, walaupun betapa bodoh dan jahat perangainya, kerana ia memang lahir dalam keluarga Brahmana yang berkedudukan tinggi. Sementara itu, anak dari orangtua berkasta rendah akan tetap berkedudukan rendah, kerana memang ia lahir di tengah-tengah keluarga yang berkasta rendah. Dalam hal ini Allah telah menyatakan dalam KitabNya:

 “... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu... " (Al-Quran, al-Hujrat, 49:13)

Artinya, semakin banyak orang mengetahui tentang Allah dan semakin mentaati perintahNya, maka akan semakin tinggi pulalah kedudukannya di mata Allah. Nabi Ibrahim Alaihissalam dilahirkan di tengah-tengah keluarga seorang penyembah berhala, tetapi beliau mengenal Allah dan mentaati perintahNya. Itulah sebabnya Allah mengangkatnya sebagai imam seluruh dunia. Anak Nabi Nuh dilahirkan dalam keluarga seorang nabi, tetapi ia tidak mengerti tentang Allah dan tidak mentaati perintahNya. Itulah sebabnya mengapa Allah menghukumnya sedemikian rupa tanpa mempedulikan keluarganya, hingga kisahnya menjadi contoh bagi seluruh dunia. Kerana itu marilah kita fahami benar-benar bahawa apa pun perbedaan yang ada diantara seorang manusia dengan manusia yang lain, dalam pandangan Allah hal itu berhubungan erat dengan pengetahuan dan perbuatan. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, rahmat Allah dilimpahkan kepada mereka yang mengerti akan Allah, tahu jalan yang benar yang ditunjukkanNya, dan melaksanakan perintah-perintahNya. Mereka yang tidak memenuhi
syarat-syarat ini sama saja kedudukannya dengan mereka yang kafir, dan tidak berhak memperoleh rahmatNya, tidak peduli mereka benama Abdullah, Abdurrahman, Joni dll.














0 komentar:

Posting Komentar