- Siapakah Yang Di Sebut Muslim
Marilah kita fikirkan apa sebenarnya arti kata Muslim yang kita gunakan setiap waktu itu,dengan
memikirkan pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Apakah seseorang sudah membawa Islam pada waktu ia
dilahirkan?
2. Apakah seseorang disebut Muslim kerana faktor
keturunan yaitu ibu-bapaknya atau kakeknya adalah Muslim?
3. Apakah seseorang disebut Muslim karena lahir ditanah Arab atau
Mekkah ?
4. Apakah seseorang disebut Muslim karena KTP nya
tertulis muslim ?
5. Apakah seseorang disebut Muslim karena lahir di
tengah masyarakat Muslim ?
6. Apakah seseorang disebut Muslim karena factor nama seperti “ Abdul Rahman” adalah Muslim
dan orang kafir namanya “ John Smith “ ?
7. Apakah seseorang disebut Muslim karena faktor
makanannya, yaitu Kafir makan daging babi, sementara Muslim tidak makan daging
babi ?
8. Apakah seseorang disebut Muslim karena faktor
pakaiannya, yaitu kafir pakai celana jeans dan Muslim pakai gamis ?
9. Apakah seseorang disebut Muslim karena dikhitan dan
orang kafir tidak ?
Apakah seseorang disebut Muslim karena warna kulit,
Kafir warna kulitnya bule sementara Muslim kulitnya hitam atau sawo matang?
Bagaimana
Jawaban dari pertanyaan diatas itu ?
Saya kira, bahkan saya
yakin anda akan menjawab : Tidak. Seseorang tidak bisa disebut Muslim karena
alasan-alasan tersebut diatas. Tetapi seseorang dikatakan Muslim apabila ia mau menerima Islam sebagai agamanya. Sebaliknya apabila ia
melepaskan atau menolak agama Islam, maka secara otomatis ia berhenti menjadi
seorang Muslim. Kemusliman seseorang adalah gelar yang diberikan Alloh karena
ia mau menerima Islam sebagai agamanya.
Seseorang yang beragama hindu atau jahil atau kafir
bisa menjadi seorang Muslim apabila ia mau menerima Islam sebagai agamanya.
Sebaliknya seseorang yang lahir ditengah-tengah keluarga Muslim akan
dikeluarkan dari masyarakat Muslim kalau ia melepaskan Islam sebagai agamanya,
walaupun ia anak seorang ustad atau anak seorang kyai.
Bagaimanakah
arti dari menerima Islam itu ?
Arti menerima Islam adalah bahwa seseorang harus
dengan penuh kesadaran dan kesengajaan menerima apa-apa yang telah diajarkan
oleh baginda Rasullullah Muhammad Saw, dan bertindak sesuai dengan
perintah-perintah dan ajarannya. Barangsiapa yang berbuat demikian,maka ia
adalah seorang Muslim dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, ia bukanlah
seorang Muslim.
Tetapi dalam faktanya saat ini tidak sedikit
seorang Muslim mematuhi petunjuk Alloh hanya dalam sebagian masalah saja, dan
dalam masalah-masalah lain mengingkari atau membangkangnya, maka ia telah
terlibat dalam kekufuran sejauh pembangkangannya terhadap hukum-hukum dan
aturan-aturan Alloh. Sehingga lahirlah muslim setengah-setengah, muslim
seperempat, muslim tigaperempat, bahkan ada yang hanya mengaku muslim saja tetapi
pada perbuatannya hampir semua perintah Alloh dibangkangnya. Padahal arti menerima Islam itu
harus Kaffah.
Bagaimanakah menjadi seorang
Muslim yang Kaffah itu ?
Muslim Kaffah disini adalah sosok pribadi muslim
yang senantiasa mengarahkan seluruh hidup dan kehidupannya sesuai dengan
al-Qur’an dan mengikuti sunah Rasulullah SAW. Menerima semua ajaran Rasulullah
Muhammad Saw baik yang manis maupun yang
pahit sekalipun, seorang muslim Kaffah menerima semua aturan-aturan Alloh tanpa
halangan. Mengapa meski di tambah kata
‘kaaffah’ bukankah muslim sendiri
memiliki pengertian menye-rahkan diri kepada Alloh dengan bimbingan Al-Qur’an
dan As-Sunah? Betul demikian, namun penyebutan muslim kaafah disini bersifat
penegas-an, sekedar membedakan, karena dalam prakteknya banyak yang mengklaim
dirinya seorang muslim, namun prilakunya tidak islamis, atau tindakan amalnya
menunjukan tindakan islam, seperti shalat, zakat, shaum, dll, namun bukan lahir
dari penghayatan iman.
Diantara
ayat yang menunjukan hal ini, salah satunya firman Alloh dalam Al-Qur’an ; Firman Allah Qs. 2:208 sebagai berikut
;
"Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keselu-ruhannya, dan janganlah kamu
turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang
nyata bagimu." (Qs.al-Baqarah/2:208)
Perbedaan
antara seorang Muslim dan Seorang Kafir ?
Perbedaan yang sebenarnya antara keduanya adalah
karena Islam dan Kufr. Islam berarti kepatuhan kepada Alloh sedangkan Kufr
berarti ketidakpatuhan kepada Alloh. Seorang Muslim lebih tinggi derajatnya di
sisi Alloh daripada orang kafir. Alloh senang terhadap Orang Muslim dan benci
kepada orang Kafir. Seorang Muslim akan memperoleh keselamatan dari Alloh
sedangkan orang kafir tidak. Seorang Muslim mematuhi perintah-perintah Alloh
sedangkan kafir membangkang akan perintah-perintah Alloh. Alloh menjanjikan
karunia sorga bagi seorang Muslim dan mamasukan orang kafir kedalam neraka.
Marilah kita pikirkan,mengapa ada perbedaan yang begitu besar antara seorang
Muslim dan seorang kafir. Padahal seorang kafir juga adalah sama keturnan Adam
seperti kita semua. Ia seorang manusia seperti kita semua, ia punya
tangan,kaki, mata dan telinga seperti kita semua. Ia pun bernapas dengan udara
yang sama, minum air yang sama, dan hiduo di bumi yang sama. Alloh yang
meciptakan kita adalah penciptanya juga. Maka, kenapakah derajatnya rendah dan
derajat kita tinggi ? mengapa kita semua nanti akan masuk sorga dan dia masuk
neraka ?
Sebab
Perbedaan adalah Pengetahuan dan Perbuatan
Ada dua perkara yang membedakan seorang Muslim dengan seorang kafir. Yang pertama adalah
pengetahuan dan yang kedua perbuatan. Pengetahuan berarti bahwa seorang Muslim
harus tahu siapa TuhanNya, apa perintah-perintahNya, bagaimana cara-cara untuk
menuruti kehendakNya, perbuatanperbuatan mana yang disukaiNya dan mana yang
tidak disukaiNya. Bila ia sudah tahu akan hal-hal tersebut, maka langkah yang
kedua ialah bahwa ia harus menjadikan dirinya sebagai budak dari Tuhannya,
melaksanakan kehendak-kehendakNya, dan mengabaikan kemauan-kemauannya sendiri.
Bila hatinya ingin melakukan sesuatu perbuatan,
tetapi perbuatan itu bertentangan dengan perintah Tuhannya, maka ia harus melepaskan keinginannya sendiri dan melaksanakan perintah
Tuhannya. Apabila suatu perbuatan kelihatan mulia di
matanya, tetapi Tuhannya mengatakan bahwa perbuatan itu hina, maka ia harus memandangnya hina pula.
Sebaliknya, bila suatu perbuatan nampak hina dimatanya, tetapi Tuhannya mengatakan mulia, maka ia
harus memandangnya mulia pula. Apabila ia melihat bahwa
sesuatu pekerjaan mengandung bahaya, tetapi TuhanNya mengatakan bahwa pekerjaan
itu harus dilakukan, maka bagaimanapun juga ia mesti mengerjakannya, walaupun
ia mungkin akan kehilangan harta benda bahkan nyawanya. Sebaliknya, apabila ia
memandang bahwa sesuatu pekerjaan akan mendatangkan keuntungan baginya, tetapi
Tuhannya melarang pekerjaan tersebut, maka ia harus meninggalkannya, walaupun
pekerjaan tersebut boleh mendatangkan keuntungan sebanyak harta benda yang ada
di seluruh dunia ini.
lnilah pengetahuan dan perbuatan yang menjadikan
seorang Muslim sebagai hamba Allah yang sejati, yang mendapat limpahan rahmatNya
serta kedudukan yang luhur mulia. Sebaliknya,
kerana seorang kafir tidak memiliki pengetahuan ini, ia dimasukkan ke dalam golongan hamba Allah yang membangkang dan tidak
mendapat limpahan rahmatNya.
Sekarang, seandainya ada seseorang yang menyatakan
dirinya seorang Muslim, tetapi ia sama
bodohnya tentang Islam dengan seorang kafir, dan sama pula pembangkangnya kepada Allah, dapatkah kita mengatakan dengan menggunakan
pertimbangan yang adil, bahwa kedudukannya lebih
tinggi daripada seorang kafir, semata-mata kerana ia memiliki nama yang berbeda,
memakai pakaian yang berbeda dan memakan makanan yang berbeda dengan orang
kafir tersebut? Dan apa pula alasannya untuk mengatakan bahwa ia berhak memperoleh rahmat Allah di dunia dan di
akhirat? Islam bukanlah sesuatu yang bersifat kebangsaan, kekeluargaan atau
persaudaraan yang secara langsung diwarisi oleh orangtua kepada anak dan dari
anak kepada cucu. Kedudukan sebagai seorang Muslim tidaklah diperoleh kerana
keturunan sebagaimana halnya kasta, di mana anak seorang Brahmana akan tetap
memperoleh kedudukan yang tinggi, walaupun betapa bodoh dan jahat perangainya,
kerana ia memang lahir dalam keluarga Brahmana yang berkedudukan tinggi.
Sementara itu, anak dari orangtua berkasta rendah akan tetap berkedudukan rendah, kerana memang ia lahir di
tengah-tengah keluarga yang berkasta rendah.
Dalam hal ini Allah telah menyatakan dalam KitabNya:
“...
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu... " (Al-Quran,
al-Hujrat, 49:13)
Artinya, semakin banyak orang mengetahui tentang Allah dan
semakin mentaati
perintahNya, maka akan semakin tinggi
pulalah kedudukannya di mata Allah. Nabi Ibrahim Alaihissalam dilahirkan di tengah-tengah keluarga seorang
penyembah berhala, tetapi beliau mengenal Allah
dan mentaati perintahNya. Itulah sebabnya Allah mengangkatnya sebagai imam seluruh dunia. Anak Nabi Nuh
dilahirkan dalam keluarga seorang nabi, tetapi ia tidak mengerti tentang Allah
dan tidak mentaati perintahNya. Itulah
sebabnya mengapa Allah menghukumnya sedemikian rupa tanpa mempedulikan keluarganya, hingga kisahnya menjadi contoh bagi seluruh
dunia. Kerana itu marilah kita fahami
benar-benar bahawa apa pun perbedaan yang ada diantara seorang
manusia dengan manusia yang lain, dalam pandangan Allah hal
itu berhubungan erat dengan pengetahuan dan perbuatan.
Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, rahmat Allah dilimpahkan kepada
mereka yang mengerti akan Allah, tahu jalan yang benar yang ditunjukkanNya, dan
melaksanakan perintah-perintahNya. Mereka yang tidak memenuhi
syarat-syarat ini sama saja kedudukannya dengan
mereka yang kafir, dan tidak berhak memperoleh rahmatNya, tidak peduli mereka
benama Abdullah, Abdurrahman, Joni dll.




Unknown


0 komentar:
Posting Komentar