Pages

Selasa, 14 April 2015

MERAJUT KELUARGA SAKINAH






Apa arti keluarga skinah itu?
Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Namun, penggunaan nama sakinah itu diambil dari al Qur’an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Allah SWT telah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.Jadi keluarga sakinah itu adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.
 
Apa arti mawaddah wa rahmah?
Di dalam keluarga sakinah itu pasti akan muncul mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu kasih sayang pada lawan jenisnya (bisa dikatakan mawaddah ini adalah cinta yang didorong oleh kekuatan nafsu seseorang pada lawan jenisnya). Karena itu, Setiap mahluk Allah kiranya diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Mawaddah cinta yang lebih condong pada material seperti cinta karena kecantikan, ketampanan, bodi yang menggoda, cinta pada harta benda, dan lain sebagainya. Mawaddah itu sinonimnya adalah mahabbah yang artinya cinta dan kasih sayang.
 
Wa artinya dan,Sedangkan Rahmah (dari Allah SWT) yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, rejeki. (lihat : Kamus Arab, kitab ta’riifat, Hisnul Muslim (Perisai Muslim) Jadi, Rahmah adalah jenis cinta kasih sayang yang lembut, siap berkorban untuk menafkahi dan melayani dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rahmah lebih condong pada sifat qolbiyah atau suasana batin yang terimplementasikan pada wujud kasih sayang, seperti cinta tulus, kasih sayang, rasa memiliki, membantu, menghargai, rasa rela berkorban, yang terpancar dari cahaya iman. Sifat rahmah ini akan muncul manakala niatan pertama saat melangsungkan pernikahan adalah karena mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah serta bertujuan hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT.
 
Apa ciri-ciri keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu?
Ciri-ciri keluarga skinah mawaddah wa rahmah itu antara lain:
1. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi. Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: “ empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar’i), yakni (a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah), (b) anak-anak yang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehat , dan (d) dekat rizkinya.”
 
2. Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik jika saat keluar rumah istri atau suami tampil menarik agar dilihat orang banyak. Sedangkan giliran ada dirumah suami atau istri berpakaian seadanya, tidak menarik, awut-awutan, sehingga pasangannya tidak menaruh simpati sedikitpun padanya. Suami istri saling menjaga penampilan pada masing-masing pasangannya.
 
3. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya.
 
4. Suami istri secara tulus menjalankan masing-masing kewajibannya dengan didasari keyakinan bahwa menjalankan kewajiban itu merupakan perintah Allah SWT yang dalam menjalankannya harus tulus ikhlas. Suami menjaga hak istri dan istri menjaga hak-hak suami. Dari sini muncul saling menghargai, mempercayai, setia dan keduanya terjalin kerjasama untuk mencapai kebaikan didunia ini sebanyak-banyaknya melalui ikatan rumah tangga. Suami menunaikan kewajiabannya sebagai suami karema mengharap ridha Allah. Dengan menjalankan kewajiban inilah suami berharap agar amalnya menjadi berpahala disisi Allah SWT. Sedangkan istri, menunaikan kewajiban sebagai istri seperti melayani suami, mendidik anak-anak, dan lain sebagainya juga berniat semata-mata karena Allah SWT. Kewajiban yang dilakukannya itu diyakini sebagai perinta Allah, tidak memandang karena cintanya kepada suami semata, tetapi di balik itu dia niat agar mendapatkan pahala di sisi Allah melalui pengorbanan dia dengan menjalankan kewajibannya sebagai istri.
 
5. Semua anggota keluarganya seperti anak-anaknya, isrti dan suaminya beriman dan bertaqwa kepada Allah dan rasul-Nya (shaleh-shalehah). Artinya hukum-hukum Allah dan agama Allah terimplementasi dalam pergaulan rumah tangganya.
 
6. Riskinya selalu bersih dari yang diharamkan Allah SWT. Penghasilan suami sebagai tonggak berdirinya keluarga itu selalu menjaga rizki yang halal. Suami menjaga agar anak dan istrinya tidak berpakaian, makan, bertempat tinggal, memakai kendaraan, dan semua pemenuhan kebutuhan dari harta haram. Dia berjuang untuk mendapatkan rizki halal saja.
 
7. Anggota keluarga selalu ridha terhadap anugrah Allah SWT yang diberikan kepada mereka. Jika diberi lebih mereka bersyukur dan berbagi dengan fakir miskin. Jika kekurangan mereka sabar dan terus berikhtiar. Mereka keluarga yang selalu berusaha untuk memperbaiki semua aspek kehidupan mereka dengan wajib menuntut ilmu-ilmu agama Allah SWT.
 
Bagaimana mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu?
Untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah perlu melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang besar, di antaranya:
 
1. Pilih pasangan yang shaleh atau shalehah yang taat menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasulullah SWT.
 
2. Pilihlah pasangan dengan mengutamakan keimanan dan ketaqwaannya dari pada kecantikannya, kekayaannya, kedudukannya.
 
3. Pilihlah pasangan keturunan keluarga yang terjaga kehormatan dan nasabnya.
 
4. Niatkan saat menikah untuk beribadah kepada Allah SWT dan untuk menghidari hubungan yang dilaran Allah SWT
 
5. Suami berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah. Seperti memberi nafkah, memberi keamanan, memberikan didikan islami pada anak istrinya, memberikan sandang pangan, papan yang halal, menjadi pemimpin keluarga yang mampu mengajak anggota keluaganya menuju ridha Allah dan surga -Nya serta dapat menyelamatkan anggota keluarganya dario siksa api neraka.
 
6. Istri berusaha menjalankan kewajibann ya sebagai istri dengan dorongan ibadah dan berharap ridha Allah semata. Seperti melayani suami, mendidik putra-putrinya tentan agama islam dan ilmu pengetahuan, mendidik mereka dengan akhlak yang mulia, menjaga kehormatan keluarga, memelihara harta suaminya, dan membahagiakan suaminya.
 
7. Suami istri saling mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya, saling menghargai, merasa saling membutuhkan dan melengkapi, menghormati, mencintai, saling mempercai kesetiaan masing-masing, saling keterbukaan dengan merajut komunikasi yang intens.
 
8. Berkomitmen menempuh perjalanan rumah tangga untuk selalu bersama dalam mengarungi badai dan gelombang kehidupan.
 
9. Suami mengajak anak dan istrinya untuk shalat berjamaah atau ibadah bersama-sama, seperti suami mengajak anak istrinya bersedekah pada fakir miskin, dengan tujuan suami mendidik anaknya agar gemar bersedekah, mendidik istrinya agar lebih banyak bersukur kepada Allah SWT, berzikir bersama-sama, mengajak anak istri membaca al-qur’an, berziarah qubur, menuntut ilmu bersama, bertamasya untuk melihat keagungan ciptaan Allah SWT. Dan lain-lain.
 
10.Suami istri selalu meomoh kepada Allah agar diberikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.
 
11. Suami secara berkala mengajak istri dan anaknya melakukan instropeksi diri untuk melakukan perbaikan dimasa yang akan datang. Misalkan, suami istri, dan anak-anaknya saling meminta maaf pada anggota keluarga itu pada setiap hari kamis malam jum’at. Tujuannya hubungan masing-masing keluarga menjadi harmonis, terbuka, plong, tanpa beban kesalahan pada pasangannnya, dan untuk menjaga kesetiaan masing-masing anggota keluarga.
 
12. Saat menghadapi musibah dan kesusahan, selalu mengadakan musyawarah keluarga. Dan ketika terjadi perselisihan, maka anggota keluarga cepat-cepat memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan nafsu amarahnya.
Wallahu Alam
 

Akhlaq Seorang Muslim









"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Kondisi sosial saat ini :
Degradasi moral akhir-akhir ini adalah tawuran yang sering dilakukan pelajar dan mahasiswa, padahal jika memandang secara ideal seharusnya semakin tinggi jenjang pendidikan yang dilalui oleh anak didik semestinya semakin piawai mengendalikan dirinya, tetapi ini tidak, kenapa?. Peristiwa yang sering terjadi di kota Jakarta, Makassar, Medan, Palu, Bandung adalah akibat yang disebabkan oleh suatu kesalahan, bisa jadi peristiwa diatas merupakan efek negatif dari pola pendidikan yang diadopsi Indonesia dari negara acuannya yaitu Eropa dan Amerika. Selain itu, esensi materi pendidikan yang distandardisasi dari Barat bermuatan budaya dan pemikiran yang tidak sesuai dengan syari’at Islam. Derasnya serangan budaya Barat seperti sikap hedonistik dengan implikasinya berupa gaya hidup hura-hura, konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistik, memakai narkotika/narkoba, pornografi, berdusta, korupsi, menimbun barang-barang manakala dibutuhkan orang banyak, mencuri atau merampok, membunuh, mencaci-maki orang, tegasnya adalah  kebebasan yang salah arah dan lepas kendali.
Akhirnya kita dihadapkan pada perkara inti yaitu bagaimana gambaran pola pendidikan akhlak dalam Islam ? bagaimana pula sosok pendidik umat yang dibutuhkan untuk membangun kepribadian akhlak Islami pada anak didik kaum muslimin?. Pertanyaan ini akan mudah untuk dijawab jika kita memiliki pedoman yang jelas dan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah serta ber-azzam (bertekad kuat) untuk menggali dan mengeksplorasi khazanah Islam sebagai fundamendal pendidikan generasi muda yang handal. Karena sungguh didalam Al-Qur’an Sunnah telah dijelaskan dengan mendalam segala aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan.
\
Solusi atas kondisi sosial :
Kerusakan yang lama ada pada pola pendidikan di Negeri Barat sepatutnya ditinggalkan oleh kaum muslimin. Kerusakan tersebut timbul dikarenakan tidak adanya muatan ruhiyah dalam penelitian dan pengembangan sains dan teknologinya. Sehingga dampak yang bisa dirasakan, pola pendidikan tersebut menghasilkan output berpikir dan bersikap berdasarkan pada prinsip materialisme dengan menanggalkan prinsip syari’at Islam. Dari sinilah problem sosial kemasyarakatan muncul dan kerusakan tatanan kehidupan. sebagaimana telah disitir dalam ayat berikut ini,



Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) “. (Ar- Rum : 30:  41).

Segala urusan dunia jika solusinya diserahkan pada hasil pemikiran manusia tanpa melibatkan hukum-hukum Allah didalamnya, maka solusi tersebut tidak bisa menuntaskan masalah. Sehingga yang terjadi adalah fenomena tambal sulam ataupun gali lubang, tutup lubang atas masalah yang ada.  Maka dari itu jika ingin menyelesaikan masalah tanpa masalah termasuk pendidikan harus berujung pangkal pada Syariat Islam.
Kemudian asfek ilmu pengetahuan sangatlah penting sekali, dengan ilmu pengetahuan maka seorang muslim memiliki panduan sekaligus sebagai kontrol dalam perilakunya. Sebagai seorang muslim,  kita  pun  dituntut  harus  mengetahui  banyak  hal.  Misalnya  dalam pembahasan   materi ini, kita harus bisa mengetahui apa pengertian dari Akhlak, macam-macam akhlak, akhlak yang baik dan akhlak yang buruk. Dan akhlak seperti apa yang membuahkan amal yang diterima disisi Alloh SWT.




Pengertian Akhlak
Ada   tiga   pendekatan   untuk   mendefenisikan   akhlak,   yaitu  

·      Menurut bahasa (etimologi)
Akhlak   berasal dari bahasa arab yakni  “khuluqun”    yang menurut loghat diartikan :   budi  pekerti, perangai,   tingkah   laku   atau   tabiat.
·      Menurut istilah (terminologi)
Definasi akhlak menurut istilah ialah: sifat yang tertanam di dalam diri yang dapat  mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan senang dan mudah tanpa pemikiran, penelitian dan paksaan.  Atau diartikan pula akhlak adalah suatu keinginan yang ada di dalam jiwa yang akan dilakukan dengan perbuatan tanpa intervensi akal/pikiran

·      Menurut para imam ahli ilmu
-        Menurut Imam Al-Gazali
"Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.".
-        Menurut Ibnu Maskawaih


"Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan."
               
-        Menurut Abdul Karim Zaidan
"(Akhlaq) adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dalam sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya."
Kesimpulan :
Dengan demikian kita menyimpulkan bahwa pengertian akhlaq adalah:
"Perbuatan yang telah biasa dilakukan secara berkesinambungan dengan kesadaran sendiri, baik itu bawaan lahir, maupun hasil dari didikan yang diperoleh dari orang lain yang telah menyatu dalam diri dan tertanam dalam jiwa sehingga menjadi sifat kepribadiannya sehari-hari."
Para ulama Islam yang menulis tentang akhlak itu menjelaskan bahwa akhlak yang baik adalah apa yang dinilai baik oleh akal dan syariat. Sedangkan akal saja tak cukup untuk menilai baik dan buruknya suatu perbuatan. Oleh karena itu, Allah mengutus para Rasul dan menurunkan pertimbangan (Kitab Suci) bersama mereka yang memperlakukan manusia dengan penuh keadilan.
Demikianlah, ukuran akhlak yang baik jika sesuai dengan syariat Allah. Berhak mendapatkan ridha-Nya dan dalam memegang akhlak yang baik ini sambil memperhatikan pribadi, keluarga, masyarakat dan pemeritahan sehingga di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan akherat.



APA ARTI MUSLIM ?



  1. Siapakah Yang Di Sebut Muslim

Marilah kita fikirkan apa sebenarnya arti kata Muslim yang kita gunakan setiap waktu itu,dengan memikirkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

1.       Apakah seseorang sudah membawa Islam pada waktu ia dilahirkan?
2.       Apakah seseorang disebut Muslim kerana faktor keturunan yaitu ibu-bapaknya atau  kakeknya adalah Muslim?
3.       Apakah seseorang disebut Muslim karena lahir ditanah Arab atau Mekkah ?
4.       Apakah seseorang disebut Muslim karena KTP nya tertulis muslim ?
5.       Apakah seseorang disebut Muslim karena lahir di tengah masyarakat Muslim ?
6.       Apakah seseorang disebut Muslim karena factor nama seperti “ Abdul Rahman”   adalah Muslim dan orang kafir namanya “ John Smith “ ?
7.       Apakah seseorang disebut Muslim karena faktor makanannya, yaitu Kafir makan daging babi, sementara Muslim tidak makan daging babi ?
8.       Apakah seseorang disebut Muslim karena faktor pakaiannya, yaitu kafir pakai celana  jeans dan Muslim pakai gamis ?
9.       Apakah seseorang disebut Muslim karena dikhitan dan orang kafir tidak ?
                              Apakah seseorang disebut Muslim karena warna kulit, Kafir warna kulitnya bule sementara                                 Muslim kulitnya hitam atau sawo matang?


Bagaimana Jawaban dari pertanyaan diatas itu ?

Saya kira, bahkan saya yakin anda akan menjawab : Tidak. Seseorang tidak bisa disebut Muslim karena alasan-alasan tersebut diatas. Tetapi seseorang dikatakan Muslim apabila ia mau menerima Islam sebagai agamanya. Sebaliknya apabila ia melepaskan atau menolak agama Islam, maka secara otomatis ia berhenti menjadi seorang Muslim. Kemusliman seseorang adalah gelar yang diberikan Alloh karena ia mau menerima Islam sebagai agamanya.

Seseorang yang beragama hindu atau jahil atau kafir bisa menjadi seorang Muslim apabila ia mau menerima Islam sebagai agamanya. Sebaliknya seseorang yang lahir ditengah-tengah keluarga Muslim akan dikeluarkan dari masyarakat Muslim kalau ia melepaskan Islam sebagai agamanya, walaupun ia anak seorang ustad atau anak seorang kyai.

Bagaimanakah arti dari menerima Islam itu ?

Arti menerima Islam adalah bahwa seseorang harus dengan penuh kesadaran dan kesengajaan menerima apa-apa yang telah diajarkan oleh baginda Rasullullah Muhammad Saw, dan bertindak sesuai dengan perintah-perintah dan ajarannya. Barangsiapa yang berbuat demikian,maka ia adalah seorang Muslim dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, ia bukanlah seorang Muslim.

Tetapi dalam faktanya saat ini tidak sedikit seorang Muslim mematuhi petunjuk Alloh hanya dalam sebagian masalah saja, dan dalam masalah-masalah lain mengingkari atau membangkangnya, maka ia telah terlibat dalam kekufuran sejauh pembangkangannya terhadap hukum-hukum dan aturan-aturan Alloh. Sehingga lahirlah muslim setengah-setengah, muslim seperempat, muslim tigaperempat, bahkan ada yang hanya mengaku muslim saja tetapi pada perbuatannya hampir semua perintah Alloh dibangkangnya. Padahal arti menerima Islam itu harus Kaffah.

Bagaimanakah menjadi seorang Muslim yang Kaffah itu ?

Muslim Kaffah disini adalah sosok pribadi muslim yang senantiasa mengarahkan seluruh hidup dan kehidupannya sesuai dengan al-Qur’an dan mengikuti sunah Rasulullah SAW. Menerima semua ajaran Rasulullah Muhammad Saw baik  yang manis maupun yang pahit sekalipun, seorang muslim Kaffah menerima semua aturan-aturan Alloh tanpa halangan.         Mengapa meski di tambah kata ‘kaaffah’  bukankah muslim sendiri memiliki pengertian menye-rahkan diri kepada Alloh dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunah? Betul demikian, namun penyebutan muslim kaafah disini bersifat penegas-an, sekedar membedakan, karena dalam prakteknya banyak yang mengklaim dirinya seorang muslim, namun prilakunya tidak islamis, atau tindakan amalnya menunjukan tindakan islam, seperti shalat, zakat, shaum, dll, namun bukan lahir dari penghayatan iman. 


                Diantara ayat yang menunjukan hal ini, salah satunya firman Alloh dalam Al-Qur’an ; Firman Allah Qs. 2:208 sebagai berikut ;

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keselu-ruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (Qs.al-Baqarah/2:208)
        


Perbedaan antara seorang Muslim dan Seorang Kafir ?

Perbedaan yang sebenarnya antara keduanya adalah karena Islam dan Kufr. Islam berarti kepatuhan kepada Alloh sedangkan Kufr berarti ketidakpatuhan kepada Alloh. Seorang Muslim lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh daripada orang kafir. Alloh senang terhadap Orang Muslim dan benci kepada orang Kafir. Seorang Muslim akan memperoleh keselamatan dari Alloh sedangkan orang kafir tidak. Seorang Muslim mematuhi perintah-perintah Alloh sedangkan kafir membangkang akan perintah-perintah Alloh. Alloh menjanjikan karunia sorga bagi seorang Muslim dan mamasukan orang kafir kedalam neraka. Marilah kita pikirkan,mengapa ada perbedaan yang begitu besar antara seorang Muslim dan seorang kafir. Padahal seorang kafir juga adalah sama keturnan Adam seperti kita semua. Ia seorang manusia seperti kita semua, ia punya tangan,kaki, mata dan telinga seperti kita semua. Ia pun bernapas dengan udara yang sama, minum air yang sama, dan hiduo di bumi yang sama. Alloh yang meciptakan kita adalah penciptanya juga. Maka, kenapakah derajatnya rendah dan derajat kita tinggi ? mengapa kita semua nanti akan masuk sorga dan dia masuk neraka ?


Sebab Perbedaan adalah Pengetahuan dan Perbuatan

Ada dua perkara yang membedakan seorang Muslim dengan seorang kafir. Yang pertama adalah pengetahuan dan yang kedua perbuatan. Pengetahuan berarti bahwa seorang Muslim harus tahu siapa TuhanNya, apa perintah-perintahNya, bagaimana cara-cara untuk menuruti kehendakNya, perbuatanperbuatan mana yang disukaiNya dan mana yang tidak disukaiNya. Bila ia sudah tahu akan hal-hal tersebut, maka langkah yang kedua ialah bahwa ia harus menjadikan dirinya sebagai budak dari Tuhannya, melaksanakan kehendak-kehendakNya, dan mengabaikan kemauan-kemauannya sendiri. Bila hatinya ingin melakukan sesuatu perbuatan, tetapi perbuatan itu bertentangan dengan perintah Tuhannya, maka ia harus melepaskan keinginannya sendiri dan melaksanakan perintah Tuhannya. Apabila suatu perbuatan kelihatan mulia di matanya, tetapi Tuhannya mengatakan bahwa perbuatan itu hina, maka ia harus memandangnya hina pula.

Sebaliknya, bila suatu perbuatan nampak hina dimatanya, tetapi Tuhannya mengatakan mulia, maka ia harus memandangnya mulia pula. Apabila ia melihat bahwa sesuatu pekerjaan mengandung bahaya, tetapi TuhanNya mengatakan bahwa pekerjaan itu harus dilakukan, maka bagaimanapun juga ia mesti mengerjakannya, walaupun ia mungkin akan kehilangan harta benda bahkan nyawanya. Sebaliknya, apabila ia memandang bahwa sesuatu pekerjaan akan mendatangkan keuntungan baginya, tetapi Tuhannya melarang pekerjaan tersebut, maka ia harus meninggalkannya, walaupun pekerjaan tersebut boleh mendatangkan keuntungan sebanyak harta benda yang ada di seluruh dunia ini.
lnilah pengetahuan dan perbuatan yang menjadikan seorang Muslim sebagai hamba Allah yang sejati, yang mendapat limpahan rahmatNya serta kedudukan yang luhur mulia. Sebaliknya, kerana seorang kafir tidak memiliki pengetahuan ini, ia dimasukkan ke dalam golongan hamba Allah yang membangkang dan tidak mendapat limpahan rahmatNya.

Sekarang, seandainya ada seseorang yang menyatakan dirinya seorang Muslim, tetapi ia sama bodohnya tentang Islam dengan seorang kafir, dan sama pula pembangkangnya kepada Allah, dapatkah kita mengatakan dengan menggunakan pertimbangan yang adil, bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada seorang kafir, semata-mata kerana ia memiliki nama yang berbeda, memakai pakaian yang berbeda dan memakan makanan yang berbeda dengan orang kafir tersebut? Dan apa pula alasannya untuk mengatakan bahwa ia berhak memperoleh rahmat Allah di dunia dan di akhirat? Islam bukanlah sesuatu yang bersifat kebangsaan, kekeluargaan atau persaudaraan yang secara langsung diwarisi oleh orangtua kepada anak dan dari anak kepada cucu. Kedudukan sebagai seorang Muslim tidaklah diperoleh kerana keturunan sebagaimana halnya kasta, di mana anak seorang Brahmana akan tetap memperoleh kedudukan yang tinggi, walaupun betapa bodoh dan jahat perangainya, kerana ia memang lahir dalam keluarga Brahmana yang berkedudukan tinggi. Sementara itu, anak dari orangtua berkasta rendah akan tetap berkedudukan rendah, kerana memang ia lahir di tengah-tengah keluarga yang berkasta rendah. Dalam hal ini Allah telah menyatakan dalam KitabNya:

 “... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu... " (Al-Quran, al-Hujrat, 49:13)

Artinya, semakin banyak orang mengetahui tentang Allah dan semakin mentaati perintahNya, maka akan semakin tinggi pulalah kedudukannya di mata Allah. Nabi Ibrahim Alaihissalam dilahirkan di tengah-tengah keluarga seorang penyembah berhala, tetapi beliau mengenal Allah dan mentaati perintahNya. Itulah sebabnya Allah mengangkatnya sebagai imam seluruh dunia. Anak Nabi Nuh dilahirkan dalam keluarga seorang nabi, tetapi ia tidak mengerti tentang Allah dan tidak mentaati perintahNya. Itulah sebabnya mengapa Allah menghukumnya sedemikian rupa tanpa mempedulikan keluarganya, hingga kisahnya menjadi contoh bagi seluruh dunia. Kerana itu marilah kita fahami benar-benar bahawa apa pun perbedaan yang ada diantara seorang manusia dengan manusia yang lain, dalam pandangan Allah hal itu berhubungan erat dengan pengetahuan dan perbuatan. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, rahmat Allah dilimpahkan kepada mereka yang mengerti akan Allah, tahu jalan yang benar yang ditunjukkanNya, dan melaksanakan perintah-perintahNya. Mereka yang tidak memenuhi
syarat-syarat ini sama saja kedudukannya dengan mereka yang kafir, dan tidak berhak memperoleh rahmatNya, tidak peduli mereka benama Abdullah, Abdurrahman, Joni dll.